the man of our life

man..

the heart of women’s life
the object of many unspeakable and unexplained things
the object of an affection..

pria,,,,hal yang tidak akan pernah habis dibahas
seperti pria juga mungkin akan berfikir sama tentang wanita

saya, wanita normal. yang pastinya tidak pernah bisa lepas dari pria.
di pekerjaan, dan juga kehidupan pribadi. sama seperti beribu wanita diluaran sana.

pria, adalah objek yang mendekatkan kita dengan banyak hal lainnya. contoh hal nya untuk saya, dengan banyak wanita. Ya, kalau bertahun tahun lalu pria hanyalah sekedar tempat saya mencurahkan keinginan dan kebutuhan untuk mencintai dan dicintai.

ternyata, pria (dan juga cerita yang kita lewatkan bersama mereka) bisa jadi sesuatu yang mendekatkan saya dengan para wanita. apalagi kalau bukan untuk berbagi. iya, setelah saya tilik lagi, saya tidak akan menjadi lebih dekat lagi dengan kakak saya tercinta kalau saja saya tidak pernah bertemu dan berdekatan dengan pria.

saya tidak akan punya sahabat sahabat tercinta kalau saja disatu saat di hidup saya, akhirnya saya memutuskan untuk bercerita semua sisi sisi tergelap dari seorang pria yang pernah hadir di hidup saya. untuk pertama kali nya mencurahkan semua yang ada sejujurnya, semuanya, tanpa menghentikan setitikpun hal untuk saya simpan.Berbagi adalah hal yang meringankan ditengah ketidak adaan seorang figur pria.

Sayangnya,sahabat pun punya hidup dan juga keinginan sendiri. tidak mungkin rasanya mengharapkan sampai berumur nanti masih tetap akan berada di satu tempat terjangkau dengan sahabat sahabat yang setiap hari akan mengiringi hidup.

Dan topik soal pria juga lah yang membuat saya jatuh hati dengan seorang penyiar di Jakarta sana yang sering mengetengahkan topik bersinggungan dengan makhluk berjudul..lagi lagi…Pria…

as my favourite announcer one day asking his audience.
"masih ada nggak sih yang percaya bahwa ada cinta yang perlu diperjuangkan mengalahkan logika? dan satu hal yang katanya lebih penting hari gini…materi"

pertanyaan yang terkuak bersamaan dengan kenyataan bahwa Radit pun akhirnya harus merelakan Jani. The woman he promised anything. They’ve been tru’ sad and bad times..(precisely..no, not the bed time, but the bad time) and yet, they failed everything. They failed everything against the world.

The World. define "WORLD" please?
well, menurut saya? ya orangtua, keluarga besar, kultur yang makin bergeser, bahkan sinetron dan iklan yang makin membentuk perspektif yang semakin kuat. entah apa perspektif yang kamu tangkap…

tivi? hell yeahh..
entah saya yang semakin menjadi dewasa (kata lain untuk tua sih sebenarnya) sehingga lebih kangen rasanya dengan tontonan semacam Keluarga Cemara, Jendela Rumah Kita (which i can’t even remember sih sebenernya hahahah). Saya setengah muak dan sedih dengan berita demi berita yang setelah saya pantenginpun terasa seperti menyodorkan kenyataan bahwa kenyamanan dalam bentuk materi adalah segalanya. Bahwa segalanya perlu uang.

Despite of it all. Pilihan mengikuti logika atau hati itu adalah hak masing masing orang. Seperti satu sms yang di bacakan oleh penyiar senior itu,

"Well bro (kata pengganti untuk penyiarnya) sometimes, berlogika itu perlu, berjuang demi cinta itu juga perlu. Tergantung cinta yang seperti apa dulu "

Dan topik ini, lagi lagi mendekatkan saya dengan para wanita. Yang tentunya meluncurkan pendapat yang beragam dan seru seru. Lagi lagi ya baliknya ngobrolin pria..ahahahahhhh..dan jawabannya, pastinya tergantung dengan pengalaman mereka dengan pria mereka masing - masing.However man has come and go in their life, how much pains they’ve endured, betrayal, and all you can ever imagine of the hard way to break up. Still after a moment or two. A year or more. From a girl until they’ve became a woman.

Seperti diawal saya bilang mungkin. Kebutuhan dan keinginan untuk mencintai dan dicintai, bukan berhenti disana. As the world going mad and unexpected. Kebutuhan akan pria yang bisa menjadi pengisi tempat sahabat, bukan hanya sekedar kekasih semakin menguat. Ya, the need of a man in up, equal, and under ;) yang pada waktunya tidak bisa dibunuh dengan setumpuk buku, film, ataupun setumpuk uang.

Mengapa? hmm saya sih sudah puas dengan jawaban Adam tidak akan lengkap tanpa Hawa. That’s what it’s supposed to be.Seperti satu kata dalam bahasa jawa…Garwo..Sigarane Nyowo..

Perhaps, the need urged us as we need to drink whenever we’re in thirst
and meal, wouldn’t be relieving without it..

man. . .
the one who we can live without
but still, the one we can’t leave behind

Leave a Reply